Hanya wanita

Masa pacaran memang merupakan masa yang paling membahagiakan. Meski selalu diselingi kemarahan, kecemburuan, namun jika tidak berjumpa, selalu saja ingin diusahakan agar selalu bersama.

Masa ini merupakan masa penyesuaian, tentu saja bagi mereka yang ingin lebih serius membina hubungan.

Jika memang kamu sudah ingin lebih serius, sebaiknya kamu jangan hanya sekadar senang-senang semata, untuk menyenangkan pasangan, tetapi menutupi yang sebenarnya.

Beberapa hal yang sebaiknya kamu perhatikan, jika hubungan untuk tujuan serius: Pertama, kamu harus menyadari bahwa masa pacaran adalah masa penjajakan.

Di masa itulah akan ditentukan masa depan dan kebahagian kamu. Manfaatkanlah masa pacaran untuk benar- benar mengenal orang yang kamu pilih untuk menjadi teman sehidup semati.

Berpikirlah rasional dan jangan terlalu terlena dalam buaian asmara. Kedua, bersikaplah realistis. Jangan terlalu terpengaruh dengan cerita sinetron yang mengangungkan cinta secara berlebihan. Jika kekasih kamu tidak romantis, mungkin karena dia belum tahu bahwa kamu menyukai pria yang romantis.

Kalau dia tidak tampak tergila-gila pada kamu, mungkin karena dia tidak tahu bagaimana mengungkapkan cinta yang bisa membuat kamu berbunga-bunga.

Renungkanlah apakah kamu benar-benar mencintainya atau mau belajar mencintainya dengan sungguh-sungguh. Kalau kamu punya kemauan untuk mempererat hubungan cinta yang sudah terjalin, berusahalah secara optimal, dan pupuk dan siramilah cinta tersebut.

Tapi kalau hubungan kamu tidak dilandasi cinta dan tidak ada kemauan untuk menumbuhkannya, kamu seperti sedang membangun rumah. Renungkan dan cari tahulah, apakah dia benar-benar mencintai kamu atau mau belajar mencintai kamu dengan sungguh- sungguh.

Rasakanlah apakah dia cukup memperhatikan kamu, apakah dia selalu berusaha membahagiakan kamu, apakah dia memperlakukan kamu dengan lembut dan sikap-sikap lain yang mengungkapkan cinta.

Bila dia tidak sungguh-sungguh mencintai kamu atau hanya ingin berpetualang dalam cinta, kamu perlu mempertanyakan komitmennya. Jika kamu menemukan sifat atau kebisaan kekasih yang buruk, bicarakanlah secara terbuka.

Pertimbangkanlah apakah kamu bisa berdamai dengan kelemahanya itu. Karena kamu akan hidup terus bersamanya.

Jangan pikir bahwa kamu bisa mengubahnya kelak setelah menikah. Itu seperti berjudi, terlalu riskan. Ketiga, ujilah kemurnian cintanya. Cinta yang murni selalu lebih kuat dari pada rasa benci.

Jangan menilainya ketika segala sesuatu berjalan baik, tapi ujilah dalam sistuasi yang kritis. Pada saat itulah keaslian watak kekasih kamu akan terlihat.

Perhatikanlah bagaimana reaksinya ketika kamu melakukan kesalahan, ketika di sedang marah dan sedang menghadapi masalah besar. Jika ada keraguan mengenal cinta kamu padanya atau cintanya pada kamu bicarakanlah dengan orang yang cukup bijak dan dapat dipercaya. Apabila diperlukan tidak ada salahnya kamu berkonsultasi dengan psikolog.

Mungkin keraguan kamu hanya keraguan normal yang dialami kebanyakan wanita pada masa pacaran.

Namun bisa juga keraguan kamu merupakan peringatan akan adanya sesuatu yang kurang beres dalam hubungan itu.

Keempat, usahakanlah agar kekasih kamu tidak saja mengenal kelebihan kamu, tapi juga kelemahan dan kekurangan kamu. Untuk itu bersikaplah terbuka.

Tunjuklah kepribadian kamu apa adanya agar dia juga bisa menilai kamu. Jangan sampai kelak dia merasa dibohongi karena kamu baru memperlihatkan keaslian sifat, setelah menikah. Kelima, bila hubungan cinta tidak bisa dipertahankan, apalagi ke jenjang pernikahan, jangan takut untuk segera memutuskan hubungan tersebut.

Meskipun sangat menyakitkan, putus cinta pada masa pacaran masih jauh lebih baik dibandingkan bercerai setelah menikah.

Sebelum kamu memutuskan untuk menikah, pertimbangkanlah matang-matang. Kamu mempertaruhkan kebahagian dan masa depan kamu.

Hindari keputusan untuk menikah dengan alasan yang emosional dan terlalu dangkal, misalnya ingin bebas dari orang tua, takut disebut perawan tua, atau sekadar ingin punya keturunan.

Apalagi “terpaksa”. Tidak ada seorangpun yang bisa memaksa kamu, kecuali kamu menyerah.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: